Bulan terakhir bersama Wordpress.com

Sejatinya blog ini hanya numpang di server WordPress.com ,tidak dipungut biaya.

Biaya dibebankan jika user ingin upgrade package. Agar domainnya menjadi .com dan kapasitas penyimpanan medianya bertambah.

Kustomisasi tema, plugin, dll di WordPress.com pun sangat terbatas. Berbeda dengan self hosting yang bisa diatur sesuai selera. Sang Blogger punya kendali penuh atas blog miliknya, jika memakai self hosting. Alias menyewa hosting dan langganan domain.

Akhir bulan ini saya sedang mengurus self hosting untuk blog ini. Alamatnya akan menjadi lebih ringkas. Tulisannya akan saya reorientasi. Agar tidak menjadi blog gado-gado. Akan fokus di beberapa tema saja. Dan yang pasti, saya akan punya kendali penuh, bisa memasang berbagai macam plugin, mengedit template, dll.

Tentu saja self hosting perlu mengeluarkan biaya. Justru karena itulah saya ingin self hosting. Agar saya rajin menulis. Sayang kan udah keluar uang tapi blognya malah kosong melompong.

Bismillah yaa… semoga diberi kemudahan 😊

Selamat bermalam minggu readers 🙂

-tufiddin

Iklan

November Padat

Hello guys.. Sudah beberapa hari ini aku gak nulis di blog. Di laptop nulis sih, tapi beberapa aja yang berencana dipost hihihi.

November ini padat sekali jadwalku. Isinya deadline tugas kuliah dan tugas praktikum. Ada laporan praktikum budidaya tanaman semusim (BTS), laporan praktikum pemupukan dan kesuburan, laporan PSEP, mengurus proposal kerja lapangan, persiapan responsi, makalah matkul BTS, tugas matkul KPKT. Banyak ya? 🙂

Rasanya kok capek gitu. Apalagi sore sering hujan. Berangkat pagi, sampai rumah sore atau malem. Ntar masih begadang garap tugas.

Sebenernya bisa lhoh menyelesaikan itu semua, asal disiplin membagi waktu. Jadi bener-bener tertib waktu. Meluangkan sekian jam sehari khusus buat tugas. Ntar pasti selesai juga.

Yang jadi masalah, aku belum bisa meluangkan waktu dengan tertib untuk ngerjain tugas. Rasanya beratttt banget. Gimana engga, di rumah ada TV, ada laptop, hape, buku bacaan. Yang notabene lebih asyik ditemani daripada tugas. Walhasil biasanya tugas kukerjain mepet dan kurang maksimal gitu.. Bukan ngasal lhoh yaaa hehe 😁😁

Puncaknya minggu ini. Aku terbebani sekali dengan tugas ini itu di kuliah. Ada juga tugas di organisasi, dan ada project buat ikut lomba. Karena itu semua aku ga masuk alias bolos beberapa matkul. Sebenernya bisa sih, sidik jari di awal. Kaburrr. Lalu balik lagi sidik jari pulang. Tapi itu melawan nuraniku #halah. Gimana ya… berat aja rasanya. Soalnya aku belum pernah titip absen sejak semester 1 🙂. Kalau nggak masuk yaudah alfa aja hehe. Kecuali kalau sakit, harus ngasih surat izin ke akademik.

Hari ini aku sampai rumah jam 7 malam. Tepat waktu Isya. Rasanya capekkk banget. Mana bawa motor sendiri, dan jalannya macet. Lalu aku kepikiran.

Masa sih aku mau gini terus. Diburu waktu. Diperbudak tugas. Udah waktunya aku merdeka atas waktu yang kumiliki. Kedepannya akan kucoba mengatur waktu sekonsisten mungkin.

Langkah awalnya sederhana :

Berkata “iya” atas ajakan yang benar-benar bisa kulakukan.

Berkata “tidak” atas ajakan yang akan menggerogoti waktu produktifku.

Alias berlaku asertif… kalo semua di”iya”kan, aku tak akan punya waktu untuk diriku sendiri.

Udah yaa. Sampai ketemu di tulisan selanjutnya 🙂

Petrichor

Masing-masing bahasa punya cara, untuk mengungkap apa yang dimaksud.

Belum ada kata dalam bahasa Indonesia, yang memuat pengertian : bau yang timbul setelah hujan menerpa tanah. Bau yang khas. Ternyata bahasa Inggris sudah memilikinya.

Petrichor namanya.

Foto itu kuambil sebelum Jogja diguyur hujan deras sore ini. November Rain.

Aku sudah tidak perlu lagi menjadi gerimis sore menjelang senja. Tak perlu khawatir sorot sinar, tak perlu khawatir tiupan angin.

Aku akan menjadi pelangi, yang setia menunggu hujan reda. Sesuatu yang (semoga) kau suka.

Sore

Kemarin malam pesanmu telah kuterima. Disampaikan rintik hujan, yang menyadarkanku dari tidur kelelahan. Rintiknya terdengar pelan, menciptakan getaran yang disuka telinga.

Pesanmu sudah sampai. Namun belum bisa kubaca jelas. Mungkin karena hujannya kurang deras.

Kau selalu saja berhasil membuatku penasaran. Menciptakan keingintahuan di dalam angan.

Sore ini adalah waktunya.

Kutetapkan. Aku akan menemuimu. Mencari tahu pesanmu semalam. Dengan malu-malu. Menjadi gerimis sore, menjelang senja. Sesuatu yang (pernah) kau suka.

Alam sudah mengiyakan inginku. Kumpulan awan menggumpal gelap mengiyakan anganku. Siap turun menjadi rintik gerimis.

Aku sudah siap berangkat. Namun diujung sana ada sinar yang semakin menguat.

Sinar di ufuk barat yang menang memudarkan anganku. Angin yang memecah gumpalan mendung mengusik inginku.

Aku hilang. Tak menjadi gerimis sore menjelang senja. Sesuatu yang (pernah) kau suka.