Menumbuhkan Kebiasaan Membaca Melalui Novel, Apa Bisa?

tumpukan-buku_20150524_204516

Sebelum mengenal sebuah benda bernama buku, saya banyak disibukkan dengan hal yang terlihat bermanfaat padahal tidak juga. Sebut saja bermain game di gawai, jalan-jalan naik motor, nonton film di laptop, maupun liat acara di televisi. Bahkan ketika ujian hampir tiba pun saya hanya mengandalkan ringkasan materi ataupun catatan teman yang saya fotokopi. Menyentuh buku paket? Jarang sekali, apalagi selain buku paket. Gak sempet baca pokoknya. Wkwkw. Ke perpus teladan pun biasanya cuma ngadem dan baca buku yang ada gambarnya (ini lihat-lihat gambar doang :D). Pokoknya parah deh. Hal ini saya alami sampai akhir kelas 10 SMA. SD dan SMP saya sering baca komik naruto 😛

Di kelas 11, saya menjumpai seorang teman perempuan yang suka baca novel Tere Liye. Saya sama sekali belum tertarik buat baca, apalagi baca novel yang identik dengan perempuan. Kemudian saya kepo juga karena banyak teman saya yang baca novel karya Tere Liye. Dari namanya, Tere Liye mirip nama orang India dan bergender perempuan. Ternyata Tere Liye, beliau orang Indonesia dan laki-laki tulen. Kemudian saya sempatkan nabung dan akhirnya terbeli Novel pertama saya, Eliana, karya Tere Liye. Awal-awal baca saya cuma sanggup maksimal 10 halaman. Kemudian secara perlahan saya kuat baca belasan halaman.. Tau-tau novelnya bisa saya tamatkan dalam waktu 1 minggu. Hmm.. mungkin karena ceritanya bagus banget.. Novel Eliana ini tebal juga lhoh..

Kemudian saya iseng-iseng tanya ke teman saya apa rekomendasi novel yang bagus.. Katanya baca tertalogi Serial Anak-anak Mamak. Eliana, Pukat, Amelia, Burlian. Semua novel itu akhirnya saya beli secara bertahap dan saya tamatkan. Mulai dari sini saya suka baca novel, dan saya suka Tere Liye 😀 Sudah 3 tahun berlalu dari tahun 2014.. Sudah ada belasan novel karya Tere Liye yang ada di rak buku. Saya tidak suka meminjam buku, lebih asik membelinya langsung saja.. Karena bisa dibaca lagi kapanpun dan bisa menyegarkan mata melihat koleksi buku yang banyak di rak.. Mungkin suatu saat bisa jadi perpustakaan miniku..

Karena mulai bosan dengan novel Tere Liye, saya mencari genre baru. Semisal yang berkaitan dengan agama seperti yang ditulis oleh Abu Umar Basyier, sosial seperti yang ditulis Ahmad Tohari, maupun karya lama karangan Buya Hamka. Semakin banyak genre akan semakin menambah wawasan dan cara pandang pembacanya..

Menurut saya, ada beberapa hal yang membuat novel menarik untuk dibaca dan selalu saja diburu penggemarnya..

Pertama, bahasa santai dan mudah dipahami. Kebanyakan novel menggunakan bahasa yang tidak terlalu formal. Bahasa pergaulan sehari-hari. Anak muda akan lebih tertarik karena novel jauh dari stigma “bahasa yang berat”. Meskipun begitu, di novel terkadang para penulis menyelipkan kata-kata yang jarang digunakan kebanyakan orang. Hal ini bisa menambah wawasan bahasa pembacanya.

Kedua, jalan cerita sesuai imajinasi dan deskripsi yang utuh. Cerita di novel bisa didasarkan pada kisah nyata maupun fiktif keseluruhannya. Hal ini tentu saja membangun imajinasi. Apalagi setiap kejadian bisa dideskripsikan dalam beberapa kalimat. Menambah jauh imajinasi pembaca berkelana di alam pikiran.

Ketiga, layout yang menarik. Di dalam novel biasanya ada hiasan-hiasan pada margin halaman ataupun di awal bab. Entah itu gambar rangkaian bunga, gulungan ombak, ataupun hal lainnya. Menurut saya hal ini akan membuat novel lebih terlihat manis dan menarik..

Ketiga hal itu yang membuat novel begitu menarik di mata saya. Terlepas dari harganya yang kadang mahal bila diterbitkan oleh sebuah penerbit yang tidak asing lagi. Coba tebak apa penerbitnya :p

Setelah menjalani kehidupan di kuliah, waktu saya berkurang untuk membaca novel. Karena saya dituntut lebih sering membaca artikel ilmiah semisal jurnal ataupun textbook yang direkomendasikan dosen. Pada awalnya memang berat membiasakan diri untuk mencari dan membaca jurnal maupun meluangkan waktu untuk membaca textbook. Namun karena kebiasaan baca saya sudah sedikit terbentuk karena membaca novel, saya tidak perlu waktu lama untuk beradaptasi ke bacaan yang lainnya. Sekali-kali novel boleh lah buat selingan. Oh iya, sudah hampir 2 bulan sejak awal dibaca novel Hujan karya Tere Liye belum bisa saya tamatkan :s

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s