Mahasiswa UGM, Jangan Latah Budaya, Mari Berkontribusi Untuk Bangsa

Arus globalisasi membuat orang semakin berubah orientasi hidupnya. Mulai menjadi manusia yang materialis, hingga tidak jarang menerjang adat istiadat dan aturan agama untuk memperoleh hal yang diinginkan. Tak terkecuali mahasiswa, mereka juga merasakan betul dampak globalisasi. Sehingga bisa lupa, bahkan tak sadar ketika mereka menerjang adat istiadat maupun norma yang berlaku di kampusnya.

Universitas Gadjah Mada telah meluluskan lebih dari 275.000 mahasiswa. Dan sudah berdiri lebih dari setengah abad. Sebagai universitas yang besar, tentu saja memiliki jati diri dan arahan dalam menentukan setiap kebijakan sembari bertahan (juga melawan) derasnya arus globalisasi yang bisa mengancam eksistensi jati diri UGM.

Jati diri UGM telah tertuang dalam Surat Keputusan Majelis Wali Amanah (MWA) nomor 19/SK/MWA/2006 tentang Jati Diri dan Visi UGM. Dituliskan dalam pasal 2 bahwa UGM adalah Universitas Nasional, Universitas Perjuangan, Universitas Pancasila, Universitas Kerakyatan, sekaligus Universitas Pusat Kebudayaan. Sungguh berat beban mahasiswa yang berkuliah di sana (jika mereka menyadari hal ini).

Visi Rencana Stragtegis (Renstra) 2012-2017 UGM menyatakan “Universitas Gadjah Mada sebagai pelopor perguruan tinggi nasional berkelas dunia yang unggul dan inovatif, mengabdi kepada kepentingan bangsa dan kemanusiaan dijiwai nilai-nilai budaya bangsa berdasarkan Pancasila.”. Tentu saja visi merupakan tanggungjawab seluruh komponen UGM. Bukan hanya dosen, bukan hanya rektor, semua komponennya berperan mewujudkan visi ini. Sekali lagi, hal ini beban berat bagi mahasiswa UGM (jika mereka menyadari hal ini). Di tengah berkembangnya zaman, mereka tetap dituntut untuk memiliki jiwa yang “berbudaya bangsa”.

Globalisasi yang ditumpangi budaya hedonisme juga mulai menyerang mahasiswa. Untuk menguji idealisme budaya mereka. Di sekitar UGM banyak sekali berdiri cafe, fashion shop, internet cafe, dan tempat nongkrong lain, yang menawarkan sensasi rileks setelah menjalani penatnya dunia perkuliahan. Bagi mereka yang tidak bisa mengontrol dan membagi prioritas antara main dan kuliah, mereka bisa dikatakan kalah melawan senjata globalisasi bernama hedonisme yang tentu berlawanan dengan budaya jawa yang dituliskan dalam peribahasa “Ojo Milik Barang Kang Melok; Ojo Mangro Mundak Kendo” yang berarti jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah. Dan jangan berpikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat.

Berkomunikasi pun lebih mudah di zaman sekarang. Gaya berkomunikasi menunjukkan budaya yang manusia anut. Ada segudang jejaring sosial dan aplikasi perpesanan yang bisa diunduh melalui ponsel kekinian yang ukuran layarnya semakin lebar. Tak jarang fitur ini membuat manusia kecanduan, untuk terus bercerita, basa-basi, dan menggali informasi. Jika komunikasi dilakukan dengan teman sebaya, bahasa tak menjadi masalah. Sopan atau tidak sopan, masa bodoh. Namun kebiasaan ini akan merepotkan jika mahasiswa ingin berkomunikasi dengan orang yang lebih tua maupun dihormati. Bahasanya jelas beda, tata caranya pun beda. Seperti layaknya berkomunikasi di dunia nyata, manusia cenderung akan bersikap sopan kepada yang lebih tua dan dihormati. Sikap ini harus dibawa juga saat berkomunikasi di dunia maya. Sopan santun “maya” paling mudah diwujudkan dengan berbahasa dengan baik sesuai kaidah yang ada. Jangan sampai mahasiswa kaget, ketika mengirim surel ke dosen tidak diberi balasan, berkirim pesan ke dosen tidak dibalas, siapa tahu formatnya salah!

Apakah mahasiswa harus pandai dalam hal materi kuliah? Jawabannya adalah ya. Karena ada standar yang mengharuskan mahasiswa lulus dalam waktu tertentu dan nilai tertentu. Jika kita tidak menganggap diri kita pandai, setidaknya universitas sudah menganggap kita pandai karena bisa lulus seleksi masuk. Sejatinya, pandai maupun tidak pandai hanyalah persepsi. Yang lebih penting bagaimana cara seorang mahasiswa memvisualisasikan kepandaiannya untuk diwujudkan dalam langkah konkret yang berkontribusi bagi negara ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tantangan bagi mahasiswa UGM ke depan adalah gencarnya globalisasi dan kewajiban menjaga identitas diri. Jangan bangga bisa hafal puluhan lagu barat namun lagu daerah tidak tahu judulnya apa. UGM membutuhkan mahasiswa yang berpikir multidimensi, tak hanya lulus skripsi lalu berlomba mencari gaji, tak hanya memikirkan nasibnya sendiri. UGM membutuhkan mahasiswa yang berjati diri UGM untuk menjadi solusi dari permasalahan yang ada. Tidak hanya UGM yang membutuhkannya, Negara Kesatuan Republik Indonesia jauh lebih membutuhkannya!

Refrensi :

  1. Mathias Hariyadi, “Hidup Benar menurut 10 Butir Filsafat Jawa”, Net, 31 Juli 2016 (16.10), http://www.sesawi.net/2011/08/18/belajar-hidup-benar-menurut-10-butir-filsafat-jawa/
  2. Video Profil Universitas Gadjah Mada 2015. Universitas Gajdah Mada. 2015
  3. Zaenudin, “Menelusuri Jati Diri Universitas Gadjah Mada Dalam Lembaran Arsip
  4. Rencana Stragtegis 2012-2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s