Cerita Dari Parkiran Kampus

high-bicycle-parking-double-arrow-green-3753Jarak rumah saya ke kampus UGM sekitar 5 kilometer, walaupun dekat hanya ada sedikit transportasi umum yang menjangkau dengan harga bersahabat. Saya bisa naik angkot (nunggu lama, biaya murah) ataupun taksi (cepat dan agak mahal). Kalau naik angkot bayarnya 3ribu – 4 ribu rupiah tergantung pak sopir, taksi sekitar 25 ribu, dan ojek motor online sekitar 12 ribu. Karena saya sering bolak-balik ke kampus, saya perlu transportasi yang murah dan mudah, pilihan jatuh ke motor pribadi yang biaya operasionalnya lebih murah daripada naik transportasi umum.

Lahan parkir motor di fakultas pertanian menurut saya cukup memadahi walaupun kadang penuh hingga mencapai rerumputan yang semestinya tak boleh diinjak. Melihat kondisi yang seperti ini bikin saya agak males parkir di kampus. Motornya mepet-mepet dan rawan tergores bodinya serta helm sering jatuh.

Selama 2 semester kuliah, motor saya sudah mengoleksi beberapa goresan yang lumayan kentara. Helm pun begitu, banyak sekali lecet bekas jatuh. Sabar sabar.. hehe. Sebenernya hal ini sudah menjadi risiko kalau parkir di tempat umum dan kita hanya bisa meminimalisir risikonya.

Harapan saya, parkiran bisa dibuat lebih aman lagi. Dibuat plot per motor agar tersedia jarak yang cukup bagi motor agak tidak bersenggolan saat mengeluarkan dari tempat parkir. Helm yang jatuh juga bisa diantisipasi dengan pemberian tempat penitipan helm.

🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s