Bagaimana Rasanya Kuliah di Pertanian? (Part 1)

Bagaimana Rasanya Kuliah Di Pertanian?

Pertanyaan itu mungkin sedikit yang menanyakan karena tidak terlalu banyak calon mahasiswa yang ingin kuliah di pertanian. Pertanian itu kotor, pertanian itu panas-panasan, capek, dan tidak prospek, anggap banyak calon mahasiswa. Padahal bidang lain pun ada juga yang kotor, panas-panasan, capek, dan saingannya malah lebih banyak. Sesuram itukah kuliah di pertanian?

Saat ini aku berkuliah di Fakultas Pertanian UGM, mengambil program studi Agribisnis. Jurusan ini bukan pilihan pertamaku. Tapi selalu menjadi pilihan keduaku, baik di jalur undangan, SBMPTN, dan Ujian Tulis UGM. Nampaknya memang inilah amanah yang diberikan Tuhan kepadaku, peranku untuk membangun bangsa ini mungkin di bidang pertanian.

Awalnya aku tidak tahu terlalu banyak tentang pertanian, apalagi agribisnis. Yang aku tahu, pertanian itu seperti yang dilakukan kebanyakan petani. Menanam, merawat, panen, kadang gagal panen, hama dan sebagainya. Ternyata pertanian adalah sebuah gunung es yang menghujam ke dalam laut. Ada banyak hal yang ternyata selama ini belum kuketahui selama SD-SMA. Inilah pentingnya kuliah, menambah wawasan dan membuka cakrawala. Sebenarnya, pertanian itu mencakup pertanian (menanam pada umumnya), perikanan, dan peternakan.

Pertanian di Indonesia ini luar biasa lho. Indonesia punya jutaan hektare lahan yang potensial untuk dimanfaatkan. Luasnya lautan juga menyimpan potensi perikanan yang luar biasa bahkan negara tetangga pun sampai mencuri ikan di perairan kita. Kalau anak muda mau memandang potensi ini dan rela berkontribusi di dalamnya, bukan tidak mungkin Indonesia akan mencapai kejayaan di bidang pertanian sebagai negara agraris.

Sering dengar berita impor beras? Produksi beras Indonesia tertinggi dibandingkan negara-negara di ASEAN.

Ini 5 Negara Penghasil Beras Terbesar di Dunia 

Mengapa kita masih impor? Karena jumlah penduduk kita banyak, sekitar seperempat milyard manusia hidup di Indonesia. Semuanya butuh makan untuk bertahan hidup. Asumsikan bahwa jumlah penduduk Indonesia terus bertambah, maka kebutuhan pangannya juga akan bertambah. Walaupun impor bisa mencukupinya, akan lebih baik jika Indonesia mandiri menyediakan pangan bagi penduduknya.

Hal tersebut hanya secuil peran penting pertanian bagi Indonesia, yang harus disadari oleh seluruh anak muda Indonesia. Mungkin saat ini kita masih bisa dengan mudah mendapatkan pangan, tapi ketika petani sudah tua dan tidak lagi menanam padi, apa yang akan kita lakukan?

Pentingnya pertanian dan perannya dalam membangun bangsa ini diajarkan kepadaku saat semester satu. Saat itu aku bingung harus bersikap bagaimana. Ada potensi besar di dalamnya dan ada tantangan besar untuk menjadi seorang sarjana pertanian yang bermanfaat setelah lulus nanti. Potensinya berupa pengembangan pertanian terpadu, perkebunan, start-up investasi pertanian, dll. Dan tantangannya adalah apakah aku mau terjun ke pertanian setelah lulus beberapa tahun mendatang?

CAMPUS LIFE

Kali ini akan aku ceritakan tentang bagaimana kuliah di pertanian. Kuliah di pertanian bisa dibilang cukup menantang. Karena akan ada banyak praktikum di setiap semesternya. Praktikum saja tidak begitu merepotkan. Yang merepotkan adalah laporannya. Kadang waktu ngerjain laporan praktikum bisa melebihi waktu belajar mata kuliah. Gak jarang ada mahasiswa yang ngerjain praktikum di saat dosen sedang menjelaskan materi di kelas (aku juga pernah :p). Praktikum ini menyenangkan juga, akan membuat mahasiswa lebih paham materi yang diajarkan di kelas. Untuk menghadapi praktikum, fisik yang prima dan membagi waktu adalah solusinya.

Rumah kaca adalah ruangan kedua setelah ruang kelas yang sering dikunjungi. Rumah kaca berisikan tanaman-tanaman percobaan mahasiswa. Fakultas Pertanian (Faperta) UGM punya beberapa rumah kaca. Asyik lho ketika merawat tanaman di rumah kaca. Salah satu kegitan praktikum di semester dua adalah mengukur tinggi dan jumlah daun tanaman setiap hari. Tenang, praktikumnya berkelompok, jadi bisa membagi jadwal.

Di pertanian banyak dijumpai istilah-istilah dan teori-teori yang baru bagi mahasiswa. Mau gak mau, mahasiswa harus berusaha belajar sendiri dengan bertanya, membaca buku rujukan, maupun jurnal. Bagiku yang paling menantang adalah saat mencari jurnal. Setiap laporan praktikum biasanya mewajibkan melampirkan jurnal yang dipakai untuk membahas praktikum yang telah dilakukan. Sering membaca jurnal akan menambah wawasan kita, karena mungkin saja pengetahuan yang ada di buku rujukan sudah tidak relevan. Karena hal itu jurnal yang digunakan minimal tahun 2010.

MASIH RAGU DENGAN PERTANIAN?

Tulisanku ini akan aku sambung di lain kesempatan. Bagi kamu yang baru naik kelas 3 SMA dan bingung mencari jurusan kuliah. Coba pertimbangkan pertanian. Karena passing gradenya tergolong sedang :p Karena akan ada banyak hal yang akan membuatmu tersadar tentang betapa kaya negerimu jika dikelola dengan benar. Selain itu, jika kamu berhasil di bidang pertanian maka keberhasilanmu akan banyak memberi dampak sosial bagi masyarakat lain. Terlibat dalam proses penyediaan kebutuhan pangan suatu bangsa adalah perbuatan yang mulia.

Kaffatufiddin

NB :

  • Nama Jurusan sudah diganti menjadi Departemen. Aku kuliah di Departemen Sosial Ekonomi Pertanian
  • Program Studi berbeda Dengan Jurusan. Program studiku Agribisnis.
  • Jurnal / jurnal ilmiah adalah suatu kutipan dari laporan, di dalam jurnal terdapat poin-poin penting dari sebuah laporan. Semacam ringkasan penelitian
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s