Memilih Mal

Mal (sesuai istilah KBBI), jumlahnya cukup banyak di Jogja. Tapi akan bertambah banyak. Menurut berita di surat kabar, beberapa bulan lalu. Bersama dengan apartemen yang mulai menjamur.

Adanya mal bukan tanpa alasan. Orang kaya butuh tempat main, orang kaya juga ingin berjualan di mal. Agar barangnya dibeli orang kaya lain. Menambah kaya, orang kaya tadi, yang berjualan di mal.

Saya dulu tinggal di Klaten. Kabupaten, yang tidak punya mal bagus. Tidak punya bioskop. Saat ingin nonton, harus ke Solo, atau ke Jogja. Repot.

Di Jogja, ada banyak mal, ada banyak bioskop. Banyak pilihan. Masalahnya tetap sama : duitnya terbatas 😁. Gak bisa sering-sering. Paling beberapa bulan sekali, kalau ada yang mengajak, atau mau diajak. Lebih jarang lagi, kalau ada yang mentraktir.

Mal, sekalipun sering dinyinyiri oleh orang-orang yang hobi bicara ketimpangan. Tetap punya hal positif yang patut diapresiasi. Toh, sebagai manusia, kita harus adil dalam memandang kan?

Mal punya tempat parkir yang luas. Muat banyak mobil, juga motor. Memudahkan orang yang akan belanja. Tanpa khawatir mengganggu lalu lintas, karena parkir di pinggir jalan. Seperti restoran dan cafe yang mulai banyak berdiri di pinggir-pinggir jalan kaliurang, di dekat UGM.

Makanan, minuman, suasana, serba kekinian. Tampilannya elok. Pelanggannya ramai. Sayang, tempat parkirnya, adalah jalan. Membuat macet lalu lintas kendaraan. Membuat saya sering telat, apalagi saat bangun kesiangan.

tufiddin

Iklan

Tuliskan komentarmu...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.