Pentingnya Pangan

Pangan adalah hidup dan matinya suatu bangsa. Begitu kata presiden pertama bangsa ini. Menyediakan pangan adalah hal yang amat bisa dilakukan oleh Indonesia. Hamparan daratan dan banyaknya gunung berapi membuat tanah negeri ini subur. Luasnya lautan menyimpan ribuan jenis ikan di dalamnya. Kalau boleh dibilang, Indonesia ini adalah tanah yang diberkahi oleh Yang Maha Kuasa.

Menghidupi seperempat milyar manusia bukanlah perkara mudah. Mereka butuh makan setiap hari. Membiarkan mereka kelaparan akan memicu keributan berkepanjangan. Ada ribuan ton beras yang harus disediakan setiap harinya, ribuan ekor ayam yang harus dipotong, ribuan batang sayuran yang harus dipanen. Bahkan ada ribuan ton gandum yang harus diimpor karena ia disukai masyarakat kita, walaupun termasuk tanaman yang tidak cocok tumbuh di negeri ini. Begitu terus setiap harinya. Berhenti satu hari saja, manusia bisa saling berperang berebut makanan.

Jumlah penduduk negeri ini semakin bertambah setiap tahunnya. Kebutuhan pangannya semakin bertambah pula. Di sisi lain, dijumpai banyak alihfungsi lahan yang semakin mengerikan. Sawah 1 hektare mungkin hanya akan menghasilkan laba belasan juta dalam sekali panen dalam beberapa bulan. Namun dengan menjualnya, pemilik bisa mendapatkan ratusan juta hingga milyaran rupiah. Setelah pembangunan selesai, sawah yang terbeli pun menemui takdirnya. Menjadi pabrik, apartemen mewah, atau hotel yang banyak mengambil air tanah itu. Lalu, akan menanam di mana?

Aku pernah melihat sebuah presentasi seorang yang peduli dengan pangan negeri ini. Akan terjadi pertumbuhan grafik yang saling berlawanan. Yakni meningkatnya kebutuhan pangan, dan menurunnya produksi pangan, jika lahan pertanian tidak direvitalisasi. Maka jangan salahkan pemerintah yang impor pangan jika kamu masih ingin kenyang.

Tulisan singkat ini bukan untuk menakut-nakuti. Hanya saja, pentingnya pangan perlu diketahui oleh seluruh penduduk negeri ini. Makanan yang kita konsumsi setiap hari adalah sebuah proses panjang pemeliharaan oleh para petani. Maka saatnya kita mulai menghargai jasa mereka. Jika belum bisa membantu untuk memproduksi pangan bagi diri sendiri, hendaknya mulai dari langkah kecil yang berarti, yakni tidak membuang-buang makanan yang kita miliki.

Tufiddin

12 Agustus 2017

Iklan

Bagaimana Rasanya Kuliah di Pertanian? (Part 1)

Bagaimana Rasanya Kuliah Di Pertanian?

Pertanyaan itu mungkin sedikit yang menanyakan karena tidak terlalu banyak calon mahasiswa yang ingin kuliah di pertanian. Pertanian itu kotor, pertanian itu panas-panasan, capek, dan tidak prospek, anggap banyak calon mahasiswa. Padahal bidang lain pun ada juga yang kotor, panas-panasan, capek, dan saingannya malah lebih banyak. Sesuram itukah kuliah di pertanian?Read More »