Gawai Juga Butuh Istirahat Lho

Hari sudah malam, pukul 22.00 aku masih memegang handphone sambil tiduran di kasur. Badan masih kotor, laporan praktikum belum rampung kukerjakan. Padahal deadlinenya besok. Di grup LINE teman-temanku saling bertukar info referensi pembahasan praktikum minggu lalu. Aku asyik membaca, menjadi silent reader. Kadang kubuka juga akun instagramku, ada banyak story yang terus saja bermunculan siang-malam. Seakan semua orang selalu ingin tampil, dimanapun, setiap waktu. Terkadang membuka Instagram bisa sampai setengah jam, kemudian capek dan tertidur dengan handphone masih di tangan.

Banyak dari kita yang seakan diperbudak oleh gawai, baik smartphone maupun tablet. Wajar, di dalamnya banyak hal yang mengasyikkan. Ada kamera, ada sosial media, ada browser, ada Youtube untuk streaming video seperti tren saat ini. Ditambah lagi banyak hape yang sudah 4G yang harga kuotanya cukup terjangkau. Kita dimanjakan oleh fasilitas dan kenyamanan ini. Jika tidak dikelola dengan benar hanya akan menjadi senjata makan tuan. Waktu produktif kita yang termakan, yang seharusnya bisa menghasilkan sebuah karya atau menambah wawasan.

Tidak ada salahnya memberi batasan pada diri kita. Mau seberapa lama bermain gawai dan kapan waktunya. Atau selamanya kita akan menjadi seperti orang kebanyakan. Menunduk khidmat mengecek notifikasi, padahal ada teman di sebelahnya yang bisa diajak bicara. Pembatasan ini bertujuan baik, agar tidak banyak waktu yang terbuang dan juga agar kita bisa lebih menghargai orang-orang di sekeliling kita. Tentunya akan menyenangkan jika lawan bicara maupun rekan kita menaruh perhatian penuh saat kita berbicara dibandingkan lawan bicara yang mencuri kesempatan untuk memandangi hapenya.

Demikian pula saat di malam hari. Setelah sampai kos, asrama, maupun rumah. Menurutku, sudah saatnya handphone juga beristirahat. Buatlah jam malam, mau jam berapa kamu akan meletakkan handphonemu. Kalau perlu tulis di profil sosial mediamu agar teman-temanmu tahu kapan kamu bisa dihubungi.

Waktu malam adalah saat yang penting untuk mulai istirahat dan juga menenangkan pikiran. Sembari meminum teh hangat maupun kopi kesukaan, ditemani buku bacaan. Jemputlah buku yang sudah dibeli berminggu-minggu lalu, yang belum sempat kamu baca. Membaca adalah salah satu cara menambah wawasan dan mengembangkan imajinasi. Bisa buku kuliah maupun apapun kesukaanmu. Bentuklah kebiasaan membaca, karena orang yang rajin membaca biasanya pandai menjaga diri dari kekosongan waktu.

Tidak perlu banyak penjelasan dariku mengenai pentingnya membaca. Di SD sudah diajarkan pentingnya membaca. Saat itu gurumu berharap kamu akan jadi anak yang rajin membaca, jika belum mulailah dari sekarang. Membaca adalah kebiasaan orang-orang hebat. Termasuk dua orang penting yang berjasa atas berdirinya negara ini, yakni Soekarno dan Mohammad Hatta. Soekarno tetap membaca buku meskipun ia diasingkan. Sedangkan istri Hatta merasa menjadi istri kedua, karena cemburu terhadap 13.000 buku milik Mohamad Hatta. Seluruh rakyat Indonesia hendaknya tahu, bahwa pendahulu mereka adalah orang-orang yang memiliki kecintaan tinggi terhadap buku.

Yok baca buku!

Iklan

Tampil “Beda” Dengan Membaca Buku

man-32271_960_720

Hello pembaca sekalian 🙂

Kata Pak Guru, kalau mau pintar harus baca buku. Kata Pak Dosen, materi perkuliahan beliau sudah ada di buku. Kata orang-orang, buku adalah jendela dunia. Buku adalah sumber pengetahuan yang amat luas. Anggaplah pernyataan ini benar. Kemudian aku ajukan pertanyaan, lalu siapa yang membaca buku? Siapakah orang yang harus membaca buku?

Read More »